Reconstruction of The Juvenile Criminal Justice System and The Giving of Diversion

Muhaimin Muhaimin

  Abstract


Children are not to be punished but to be given guidance and development, so that they grow and develop as completely normal, healthy and intelligent children. Sometimes children experience situations that make them commit illegal acts. Even so, children who break the law are not worthy of punishment, let alone put in prison. Law Number 11 Year 2012 concerning Juvenile Criminal Justice System demands a reorientation of the purpose of punishment which has an impact on the operation of the Juvenile Criminal Justice System. The formulation of the objectives of restorative justice and diversion mechanisms which are recognized as mechanisms for handling crimes committed by children demands that the performance of the criminal justice sub-system change its orientation. The problem of this research was how the construction and reconstruction of the giving of diversion are. This research used descriptive analysis method and normative juridical approach. Children are part of citizens who must be protected as a generation to continue the leadership of the Indonesian nation. The current ideal construction for children who are in conflict with the law applies the Law of Juvenile Justice System where children aged 7 years can be given diversion in the trial process. Article 21 of the Law of Juvenile Criminal Justice System and Government Regulation No. 65 Year 2015 concerning Guidelines for the Implementation of Diversion, children under 12 years of age who commit/are suspected of committing a criminal act shall then be returned to their parents and include them in education, coaching, and mentoring programs in government institutions or Social Welfare Organizing Institutions in institutions in charge of social welfare.

  Keywords


justice system; juvenile criminal; diversion; restorative justice

  Full Text:

PDF

  References


Ahmad Syafiq. “Rekonstruksi Pemidanaan Dalam Hukum Pidana Islam (Perspektif Filsafat Hukum).” Jurnal Pembaharuan Hukum 1, no. 2 (2014): 179.

Ahmad Ubbe. Mediasi Penal dan Peradilan Adat. Jakarta, 2014.

Ali, Muhammad Khalid. “Rekonstruksi Pengaturan Persidangan Tanpa Hadirnya Terdakwa Tindak Pidana Korupsi Dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia.” Brawijaya, 2019.

Antonius Cahyadi. Runtuhnya Sekat Perdata dan Pidana: Studi Peradilan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008.

Article 11.1. “The Beijing Rules.” Article 11.1. Beijing, 1985.

Bryan A. Garner (ed). Black’s Law Dictionary. St. Paul, 2000.

Imam Wahyudi. Pengertian ide diversi telah disebutkan dalam BAB I dalam kerangka konsepsional. Jabaran kata “ide” ini berdasarkan mereka yang menganut Teori Kebenaran Pragmatis seperti Charles S. Pierce, William James, dan John Dewey.

Lihat Pengantar Epistemologi. Yogyakarta: Badan Penerbit Filsafat UGM, LIMA, 2007.

Jufrina Rizal, Suhariyono AR. Demi Keadilan Antologi Hukum Pidana dan Sistem Peradilan Pidana. Jakarta: Pustaka Kemang, 2016.

Lilik Mulyadi. Pengembalian Aset (Asset Recovery) Pelaku Tindak Pidana Korupsi. Jakarta: Kencana, 2020.

Lilik Mulyad. Wajah Sistem Peradilan Pidana Anak Indonesia. Bandung: Alumni, 2014.

Lode Walgrave. Restoration in Youth Justice. Chicago: University of Chicago, 2004.

Marlina. Peradilan Pidana Anak di Indonesia. Jakarta: Refika Aditama, 2012.

Muhaimin. “Penetapan Tersangka Tidak Ada Batas Waktu.” Jurnal Penelitian Hukum De Jure 20, no. 2 (2020): 278. https://ejournal. balitbangham.go.id/index.php/dejure/article/ view/1165/pdf_1.

Paulus Hadisuprapto. “Peradilan Restoratif Model Peradilan Anak Indonesia Masa Datang, Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Kriminologi pada Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang, tanggal 18 Februai 2006,” 2006.

Peter Mahmud Marzuki. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006.

Situmorang, Mosgan. “Aspek Hukum Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Oleh Korporasi Dalam Bidang Perpajakan.” Penelitian Hukum De Jure 20, no. 3 (2020):

https://ejournal.balitbangham.go.id/ index.php/dejure/article/view/1280/pdf.

Undang-undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Diversi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dalam hal tindak pidana yang dilakukan: a. diancam dengan pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun; dan b. bukan merupakan pengulangan tindak pidana”. Jakarta, 2012.

Lilik Mulyad. Pasal 9 ayat (2) UU SPPA, menegaskan: “Kesepakatan Diversi harus mendapatkan persetujuan korban dan/atau keluarga Anak korban serta kesediaan Anak dan keluarganya, kecuali untuk: a. tindak pidana yang berupa pelanggaran; b. tindak pidana ringan; c. tindak, 2012.

UU No. 35 Tahun 2014. Pasal 59 “Pemerintah dan Lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggungjawab untuk memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan teresolasi, anak tereksplotasi se. Jakarta, 2014.


  Article Metrics

Abstract This article has been read : 176 times
PDF file viewed/downloaded : 100 times

DOI: http://dx.doi.org/10.30641/dejure.2021.V21.253-266

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Jurnal Penelitian Hukum De Jure Indexed by :

 


Jurnal Penelitian Hukum De Jure Statistic
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License